Halaman

Sabtu, 21 Desember 2019

EVALUASI KESIAPSIAGAAN DAN BUDAYA SADAR BENCANA MASYARAKAT DESA WUKIRSARI, KECAMATAN CANGKRINGAN, KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA




THE EVALUATION OF DISASTER PREPAREDNESS AND AWARENESS PRACTICE OF COMMUNITY IN WUKIRSARI VILLAGE,  CANGKRINGAN, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Elvis Saputra dan Restu Faizah
Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Jl. Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

E-mail: elvizsaputra95@gmail.com, restu.faizah@umy.ac.id


Abstrak
Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 mengakibatkan ratusan korban meninggal dunia maupun luka-luka, serta ribuan rumah rusak ringan hingga berat. Salah satu desa terdampak erupsi Merapi 2010 adalah Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman DIY, yang secara geografis merupakan wilayah rawan bencana akibat erupsi Gunung Merapi, mulai aliran lahar panas, banjir lahar dingin dan hujan abu vulkanik. Di desa tersebut terdapat huntap (hunian tetap) Dongkelsari yang dihuni oleh warga yang direlokasi karena tempat tinggalnya berada di daerah yang tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana masyarakat Desa Wukirsari, baik yang berada di dalam huntap maupun masyarakat asli yang berada di luar huntap. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari belum merata, terutama di wilayah luar huntap telihat masih sangat kurang. Oleh karena itu beberapa program diusulkan di akhir penelitian ini, agar tingkat kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana masyarakat Desa Wukirsari dapat meningkat. Dengan demikian diharapkan apabila terjadi erupsi Merapi di masa yang akan datang, tidak mengakibatkan korban sebagaimana erupsi pada tahun 2010.

Katakunci : kesiapsiagaan, budaya sadar bencana, erupsi Merapi, Desa Wukirsari, hunian tetap.

Abstract
The 2010 Mount Merapi eruption result in death and injury, as well as many of house damage in term mild to severe. Wukirsari is an affected village of this eruption which is located in Cangkringan District, Sleman Regency. It really an eruption disaster-prone area where is a hot pyroclastic flow, volcanic ash rain, and cold lava flood likely occur. There is a permanent Relocated Settlement namely Huntap Dongkelsari in this site, which is used for a resident of relocated people from the areas uninhabitable. This study aims to evaluate the disaster preparedness and awareness practice of the community in Wukirsari village, both of the residents in the Huntap and outside. The result illustrates the disproportionate of disaster preparedness and awareness practice of the community in Wukirsari Village, with the condition in the outside more severe than in the Huntap. Accordingly, programs to improve the disaster preparedness and awareness practice is proposed. It is expected to mitigate the risk of Merapi Hazard in the future, so there aren’t victims more than 2001 eruption's impact.

Keywords: Preparedness, awareness practice, Merapi eruption, Wukirsari village, permanent relocated settlement.



1.   PENDAHULUAN

Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 di Yogyakarta menyebabkan 346 orang meninggal, 121 korban luka berat dan 5 orang korban hilang. Pemukiman yang terletak disekitar lereng Gunung Merapi mengalami kerusakan yang cukup parah, tercatat sekitar 2.682 rumah rusak berat dan tidak layak huni, 156 rumah rusak sedang dan 632 rumah rusak ringan (Repositori UGM, 2014).
Warga yang terkena dampak erupsi Merapi 2010 kemudian direlokasi ke huntara (hunian sementara) hingga 2012. Bersamaan dengan itu, Pemerintah membangun huntap (hunian tetap) untuk para korban yang kehilangan tempat tinggal, dan selesai pada tahun 2013. Pembangunan huntap tersebut tersebar di 15 lokasi, beberapa diantaranya terletak di Desa Umbulharjo, Desa Wukirsari, Desa Argomulyo, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan dan Desa Sindumartani Kecamatan Ngeplak. Lokasi ini diplih sebagai huntap karena dianggap sebagai lokasi yang aman dari ancaman bahaya erupsi merapi maupun lahar dingin (Pemda D.I Yogyakarta).
Setelah 7 tahun paska erupsi dan 4 tahun setelah dibangunnya huntap tersebut diharapkan pada daerah huntap dan sekitarnya sudah memiliki budaya sadar bencana, sehingga masyarakat memiliki kesiapan apabila Merapi kembali meletus. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki masyarakat, agar perbaikan dan program peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dapat dilakukan sesegera mungkin, sehingga masyarakat memiliki ketangguhan menghadapi kemungkinan bencana erupsi Merapi pada waktu yang akan datang. Salah satu desa tempat dibangunnya huntap pasca letusan merapi 2010 tersebut adalah Desa Wukirsari yang terletak di Kecamatan Cangkringan. Meskipun di desa tersebut terdapat huntap, namun belum bisa dipastikan apakah beberapa dusun yang berada di sekitar huntap memiliki kondisi yang sama dengan huntap baik dari infrastrukrutur, kesiapan dalam menghadapi bancana dan lain sebagainya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi atau menilai kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki masyarakat Desa Wukirsari. Dusun yang akan di evaluasi pada penelitian ini adalah dusun yang di dalamnya terdapat huntap yaitu Dusun Srodokan Gungan dan dusun yang di dalamnya tidak terdapat huntap yaitu Dusun Cakran. Secara umum dusun-dusun yang ada di Desa Wukirsari sama.
Evaluasi kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana meliputi penilaian terhadap aspek fisik, ekonomi, budaya dan ketangguhan desa, diikuti dengan penyusunan program usulan. Tujuan dari program usulan adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di beberapa dusun yang ada di Desa Wukirsari sehingga ketangguhan dusun dapat meningkat. Evaluasi ketangguhan dusun berpedoman pada Perka BNPB No.1 Tahun 2012 tentang Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, sedangkan metode pengumpulan data menggunakan data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, kuosioner dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari data yang dimiliki oleh pemerintahan desa maupun dusun. Pembahasan dilakukan dengan metode deskriptif, yang berdasarkan pada gambaran langsung kondisi di lapangan.
Sriharini (2010) menyebutkan bahwa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyikapi kejadian bencana yang sering terjadi di Indonesia adalah menyiapkan dan membangun masyarakat sadar bencana. Dalam upaya membangun masyarakat atau komunitas sadar bencana, pendidikan kebencanaan menjadi pintu masuk yang cukup penting dan strategis. Pendidikan kebencanaan dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, non formal maupun informal. Sementara itu Sugiharto (2015) menjelaskan bahwa pendidikan kesiapsiagaan melalui penyuluhan memiliki dasar regulasi tingkat pusat dan daerah yang menjadi acuan kerja petugas BPBD. Instansi yang terlibat penyuluhan adalah dinas kesehatan dan puekesmas, PMI, LSM, BPBD. Dampak penyuluhan kesiapsiagaan adalah ketika terjadi erupsi gunung merapi masyarakat sudah mau mengungsi, termasuk sebagian dari masyarakat Bromo, agar selamat, selain itu masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

2.   METODOLOGI

2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dusun Srodokan Gungan dan Dusun Cakran, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi penelitian memiliki radius ± 12 Km dari puncak Merapi, seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.

2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juli hingga bulan September 2017.

2.3 Analisis
Analisis penelitian ini meliputi beberapa tahapan, yaitu:
1.  Survei lokasi ke Desa Wukirsari



Gambar 1. Lokasi Dusun Srodokan Gungan dan Cakran
2. Melakukan pendekatan dengan warga dan pihak-pihak desa yang memiliki kewenangan dalam mitigasi bencana.
3.  Melakukan pengisian kuisioner Perka BNPB No.1 Tahun 2012 dengan cara mewawancarai salah satu pihak desa yang memiliki kewenangan tentang mitigasi bencana di desa tersebut.
4.  Melakukan survei fasilitas-fasilitas yang ada di Desa Wukirsari yang dapat menunjang proses mitigasi dan mewujudkan desa tangguh bencana.
5.  Skoring hasil kuisioner Perka BNPB No.1 Tahun 2012, untuk mengetahui ketangguhan Desa Wukirsari.
6.  Penyusunan usulan program peningkatan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki masyarakat Dusun Srodokan Gungan dan Dusun Cakran, Desa Wukirsari.

2.4 Metode Penilaian Kesiapsiagaan dan Budaya Sadar Bencana
Kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang ditinjau dalam penelitian ini meliputi  beberapa aspek sebagai berikut:
1.  Aspek fisik, ditunjukkan dengan kesiapan infrastruktur dan peralatan yang tersedia dan siap dimanfaatkan ketika terjadi bencana. Beberapa infrastruktur dan peralatan yang ditinjau dalam penelitian ini meliputi jalur evakuasi, titik kumpul, museum kebencanaan, peta jalur evakuasi, peta usia rentan, struktur bangunan rumah warga, pos ronda dll.
2.  Aspek SDM (Sumber Daya Manusia) yang meliputi kesadaran masyarakat tentang bahaya erupsi merapi, ketrampilan yang dimiliki masyarakat untuk melakukan tindakan penyelamatan, tim siaga bencana, tim relawan, kerjasama pihak dusun dengan pihak pemerintah maupun pihak swasta.
3.   Aspek ekonomi, meliputi kesiapan masyarakat dari sisi ekonomi untuk menghadari kemungkinan erupsi Merapi yang kembali terjadi. Kesiapan dari aspek ekonomi yang ditinjau meliputi tingkat ekonomi warga, ketersediaan kas desa untuk kegiatan mendesak,  cadangan makanan, kerajinan masyarakat, dan UKM.
4.  Aspek budaya, yang merupakan kebiasaan masyarakat yang sudah dilakukan turun temurun atau beberapa tahun terakhir dan bernilai positif dalam kegiatan penanggulangan bencana.
5.  Aspek ketersediaan dokumen penanggulangan bencana.
6.  Aspek ketangguhan desa, diukur menggunakan metode skoring dengan penilaian mengikuti Perka BNPB No.1 Tahun 2012

2.5 Usulan Program
Program yang menjadi usulan dalam penelitan ini merupakan pengembangan dari kekurangan yang ditemukan saat penilaian kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di beberapa dusun Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

3.  HASIL DAN PEMBAHASAN

            Dusun Srodokan Gungan dan Dusun Cakran secara administrasi berada di Desa Wukirsari yang terletak di wilayah Kecamatan cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas wilayah keseluruhan 1.456 Ha. Jarak tempuh dari Kota Jogja sekitar 20 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam, kedua dusun ini terletak di lereng merapi. Desa Wukirsari  secara geografis merupakan wilayah rawan bencana akibat erupsi Gunung Merapi, mulai dari banjir lahar panas, lahar dingin, hujan abu vulkanik dan awan panas. Terjadinya peristiwa bencana menimbulkan keadaan darurat yang ditandai dengan terancamnya keselamatan dan kesejahteraan jiwa, kerugian harta benda, dan rusaknya prasarana dan sarana publik.
Pada Dusun Srodokan Gungan terdapat huntap yang dihuni oleh masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Upaya yang sudah dilakukan oleh masyarakat huntap dalam mewujudkan budaya sadar bencana meliputi pembangunan Museum Dokumenter Kebencanaan dan kirab budaya tahunan. Prosesi kirab budaya menggambarkan proses relokasi dari dusun lama atau tempat yang dulunya terkena dampak langsung erupsi merapi 2010 ke tempat baru yang lebih aman yaitu Huntap Dongkelsari. Sedangkan letak atau posisi Dusun Cakran yakni berada disebelah timur Huntap Dongkelasari yang di dalamnya tidak terdapat huntap. Dusun ini secara umum sama seperti dusun lainnya hanya saja pada Dusun cakran belum terlihat adanya upaya-upaya yang dilakukan dalam pengurangan resiko bencana selain dari itu juga belum terlihat adanya upaya untuk mewujudkan budaya sadar bencana seperti yang telah diterapkan di Huntap Dongkelsari.
Responden utama dalam penelitian ini adalah Totok Hartanto, yang memiliki kedudukan sebagai Kepala Dukuh pada salah satu pendukuhan di Desa Wukirsari, tepatnya di Dusun Srodokan Gungan yang sudah mulai menerapkan budaya sadar bencana di kawasan tersebut. Salah satu cara Totok Hartanto dalam Menciptakan budaya sadar bencana di kawasan huntap adalah dengan menggerakkan mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membuat suatu program-program yang dapat mewujudkan budaya sadar bencana. Berbagai program yang telah berhasil diwujudkan oleh Totok Hartanto dengan mahasiswa di salah satu universitas di Yogyakarta diantaranya, Museum Dokumenter Kebencanaan, Rumah Baca, Peta Jalur Evakuasi tingkat dusun, Peta Usia Rentan tingkat dusun, Papan Informasi jalur evakuasi dan titik kumpul, serta dokumen Standard Operating Procedure (SOP) Tanggap Darurat Bencana tingkat dusun.
.
3.1     Penilaian tingkat kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana
     
3.1.1     Aspek Fisik
1)  Dusun Srodokan Gungan
Dusun Srodokan Gungan yang di dalamnya terdapat Huntap dari aspek fisik sudah terlihat cukup baik. Pada bidang infrastruktur, di Dusun Srodokan Gungan banyak ditemukan rumah-rumah yang didesain sesuai dengan pedoman rumah tahan gempa dan jaringan jalan yang ada di huntap dan sekitarnya sudah terlihat baik, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2 dan Gambar 3.
Penilaian pada segi peralatan atau fasilitas penunjang mitigasi bencana Dusun Srodokan Gungan sudah terlihat cukup bagus terutama di Huntap Dongkelsari, ditandai dengan ketersediaan fasilitas-fasilitas seperti Museum Dokumenter Kebencanaan, rumah baca, rumah batik, pendopo, taman bermain anak, masjid, papan informasi jalur evakuasi, papan informasi titik kumpul, peta desa, peta jalur evakuasi dan peta usia rentan. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menunjang mitigasi bencana yang ada di Dusun Srodokan Gungan, dan ditunjukkan dengan Gambar 4 - 9.
Pada Gambar 4, terlihat Museum Dokumenter Kebencanaan yang dibangun pada tahun 2016 dan berlokasi di Desa Wukirsari  dengan bentuk bangunan yang sangat sederhana.



Gambar 2.  Rumah Warga Huntap Dongkelsari Dusun Srodokan Gungan


Gambar 3. Jaringan Jalan Sudah Terlihat Baik (Aspal)


Gambar 4. Museum Dokumenter Kebencanaan


Gambar 5. Pata Jalur Evakuasi dan Usia Rendan di Dalam Museum

Bangunan museum ini dipinjam dari warga huntap yang belum ditempati. Dinding pada bangunan museum masih terlihat susunan batakonya dan lantai masih berupa tanah. Hal ini memang disengaja karena bangunan tersebut menjadi bagian dari kisah pasca erupsi Merapi. Dalam bangunan museum tersebut terdapat benda-benda pasca erupsi merapai 2010 milik warga setempat diataranya seperti sepeda motor masyarakat yang rusak akibat awan panas, piring-piring dan gelas yang sudah lama tertimbun oleh abu vulkanik, tulang-tulang hewan yang tersisa akibat awan panas dan  berbagai foto yang ditempel di dinding yang menceritakan sitausi pada saat terjadi erupsi merapi.
Selain dari barang-barang sisa erupsi di dalam bangunan tersebut juga terdapat peta kawasan rawan bencana gunung merapi, peta jalur evakuasi dusun dan peta usia rentan dusun yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam melakukan proses evakuasi. Salah satu sudut dalam museum dokumenter kebencanaan terlihat pada Gambar 5, dimana tertempel peta jalur evakuasi dan usia rentan.
Selain Museum Dokumenter Kebencanaan di Huntap Dongkelsari juga terdapat Rumah Baca (Gambar 6) yang dapat dijadikan sebagai pusat referensi bagi masyarakat setempat tentang informasi seputar kebencanaan, terutama bagi usia anak-anak. Dengan adanya rumah baca ini, diharapkan anak-anak terbiasa mengenali apa itu bencana dan apa yang seharusnya dilakukan jika terjadi bencana, sehinggan akan mewujudkan lingkungan masyarakat yang berwawasan kebencanaan. Salah satu sudut rumah baca ditunjukkan pada Gambar 7.
Kesiapan Huntap Dongkelsari dalam menjalani proses evakuasi juga sudah terlihat memiliki sistem yang baik. Hal itu tampak pada saat dilakukan survei ke lokasi, dimana pada setiap simpang atau blok terdapat papan informasi (Gambar 8) yang menunjukkan arah jalur evakuasi yang disesuaikan dengan arah yang ada pada peta. Selain itu, terdapat pula peta evakuasi dan usia rentan (Gambar 9) untuk mengetahui sebaran golongan rentan di Huntap Dongkelsari, sehingga apabila terjadi bencana, masyarakat yang masuk dalam kategori usia rentan dapat diprioritaskan dalam proses evakuasi.
Selain dari fasilitas-fasilitas yang sudah dijelaskan di atas, Huntap Dongkelsari juga memiliki beberapa fasilitas umum diantaranya Pos Ronda, Pendopo, Masjid, Taman bermain dan lain sebagainya, ditunjukkan pada Gambar 10 sampai Gambar 12.


Gambar 6. Rumah Baca Huntap Dongkelsari


Gambar 7. Terlihat Buku-Buku di dalam Rumah Baca Memuat Informasi Seputar Kebencanaan.




Gambar 8. Papan Informasi Jalur Evakuasi



Gambar 9. Peta Jalur Evakuasi dan Usia Rentan



Gambar 10. Pendopo Sebagai Tempat Perkumpulan Warga


Gambar 11.  Pos Ronda


Gambar 12. Masjid di Huntap Dongkelsari

2)    Dusun Cakran
Lokasi Dusun Cakran berada pada posisi yang lebih dekat dengan ancaman letusan Merapi, dibandingkan dengan lokasi Dusun Srodokan Gungan. Namun apabila dilihat dari segi kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman Merapi, dusun ini terlihat belum memiliki upaya yang maksimal dalam pengurangan resiko bencana. Berdasarkan survei di lapangan, dapat diketahui bahwa situasi Dusun Cakran cukup berbeda dengan situasi Dusun Srodokan Gungan, baik dari segi infrasruktur, jaringan, maupun manjemen kebencanaannya.
Pada dusun ini tidak terdapat huntap dan konstruksi rumah masyarakat secara umum belum mengikuti persyaratan rumah yang aman, sehingga dinilai memiliki potensi untuk rusak berat apabila terjadi bencana. Pada dusun ini juga terdapat sungai yang cukup besar dan berjarak sangat dekat  (Gambar 13) yang mana apabila terjadi erupsi Merapi, maka daerah sekitar dusun ini berpotensi terkena ancaman berupa banjir lahar panas maupun banjir lahar dingin. Pada Gambar 14 terlihat jenis bangunan rumah warga Dusun Candran yang masih sangat sederhana dan belum memenuhi persyaratan rumah yang aman.


Gambar 13. kondisi Sungai di Dusun Cakran


Gambar 14.  Kondisi Beberapa Rumah Warga

Kondisi alam di Dusun Cakran juga menambah tingginya potensi bencana, seperti ditunjukkan dalam Gambar 15, dimana masih terdapat jalan-jalan yang sempit dan curam. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan untuk proses emergency dan evakuasi apabila terjadi bencana.


Gambar 15. Situasi Medan Jalan Yang Cukup Sempit dan Curam

Dari aspek kesiapsiagaan, Dusun Cakran juga belum meiliki kesiapsiagaan yang baik, salah satu bukti yang tampak adalah tidak adanya papan informasi tentang jalur evakuasi, dan titik kumpul seperti ditunjukkan pada Gambar 16.


Gambar 16. Tidak Adanya Papan Informasi Arah Evakuasi dan Titik Kumpul

3.1.2 Aspek SDM
Dari segi aspek SDM dalam penanggulangan bencana secara umum Desa Wukirsari masih bergantung pada tim SAR dan BPBD setempat, meskipun demikian namun sebagian anggota dari SAR bersal dari muda-mudi desa sekitar, salah satunya adalah Desa Wukirsari.
Meskipun masyarakat Desa Wukirsari sebelumnya sudah mulai berupaya untuk membentuk komunitas penanggulangan bencana namun karena keterbatasan personil dan perlatan yang belum begitu memadai komunitas ini belum berjalan dengan baik.
SAR DIY dan TRC BPBD bersama-sama bersinergi aktif dalam melakukan tindakan-tindakan penyelamatan pada saat terjadi bencana. Tim SAR dan TRC BPBD ini difokuskan untuk menangani bagian sisi selatan Gunung Merapi. Pos SAR berada di Desa Umbulharjo dan berada disebelah sisi selatan Desa Wukirsari yang memliki radius ± 5-10 km dari puncak gunung merapi. Untuk melihat lokasi dan pos SAR lihat Gambar 17 dan 18.

3.1.3 Aspek Ekonomi
Pengamatan pada aspek ekonomi, diketahui bahwa masyarakat Dusun Srodokan Gungan sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terdampak erupsi merapi 2010.
Upaya ini dapat dinilai sebagai sebuah kemampuan atau modal yang dimiliki masyarakat agar bisa bangkit dengan cepat dan segera dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya apabila terjadi bencana dimasa yang akan datang. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh kelompok masyarakat Dusun Srodokan Gungan diantaranya adalah berupa kerajinan batik yang dikerjakan oleh kelompok masyarakat dan kemudian dipasarkan atau dijual dengan cara ikut serta dalam event atau acara bazar-bazar yang diselenggarakan di beberapa tempat. Salah satu contoh terlihat pada Gambar 19, pemasaran batik yang dilakukan oleh masyarakat melalui web desa pada link: www.wukirsari-sleman.sid.web.id. Selain batik, terdapat usaha lain yang sudah dimiliki oleh masyarakat Dusun Dongkelsari, yaitu produk Yoghurt Susu Kambing Etawa Merapi dan snack-snack seperti yang terlihat pada Gambar 20.


Gambar 17. Jarak Pos SAR dari Puncak Merapi

Gambar 18. Pos Aju SAR DIY

Sementara itu, berdasarkan hasil wawancara dengan kepala dusun, bapak Yudi Anthoni, diperoleh penjelasan bahwa selama masa jabatannya di Dusun Cakran, mata pencaharian masyarakat didominasi oleh petani dan sebagian kecil ada yang bekerja angkut pasir. Hingga saat ini belum ditemukan warga yang memiliki usaha atau membuat kerjajinan/keterampilan sebagai bekal untuk bertahan hidup apabila terjadi bencana/keadaan darurat. Jika penduduk suatu wilayah hanya bekerja sebagai petani, sedangkan pemukimannya berada dekat dengan gunung berapi yang masih aktif, maka tanaman terancam rusak dan mata pencaharian masyarakat akan terhenti, apabila gunung berapi tersebut erupsi. Oleh sebab itu keterampilan masyarakat dalam membuat suatu kerjainan atau suatu peluang usaha sangat dibutuhkan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pemerintah setempat terutama pihak desak hendaknya selalu memberikan arahan dan bimbingan dalam mewujudkan ketangguhan masyarakat pada aspek ekonomi ini.


Gambar 19. Hasil Kerajinan Batik Masyarakat Dusun Srodokan Gungan


Gambar 20. Yoghurt dan Snack-Snack yang Dijual Masyarakat

3.1.4 Aspek Budaya
Pengamatan pada aspek budaya menunjukkan bahwa Dusun Srodokan Gungan telah memiliki upaya penguruangan resiko bencana, sementara Dusun Cakran belum memiliki. Berdasarkan penjelasan dari bapak Yudi Anthoni, belum pernah dilakukan upaya untuk mengingat atau memberikan informasi seputar kebencanaan melalui acara kebudayaan di Dusun Cakran.
Kegiatan peringatan 6 tahun bencana merapi dengan tema "Kebangkitan dusun Srodokan Gungan paska 6 tahun bencana Merapi", diselenggarakan pada tanggal 12 s/d 13 November 2016 di Dusun Srodokan Gungan. alam kegiatan tersebut, warga mengadakan berbagai macam acara, antara lain kirab budaya yang menggambarkan proses “bedol desa” atau relokasi dari dusun lama yang terdampak langsung bencana Merapi 2010 menuju Huntap Dongkelsari. Peringatan 6 tahun bencana Merapi tersebut bertujuan untuk mengingat kembali kejadian bencana 6 tahun silam agar risiko bencana dimasa yang akan datang dapat di mimimalisir. Kepala Dusun Srodokan Gungan, Totok Hartanto, berharap acara semacam ini bisa rutin dilakukan setiap tahun dengan biaya berasal dari swadaya masyarakat. Beberapa rangkaian acara tersebut dapat dlihat pada Gambar 20 dan Gambar 21.


Gambar 20. Proses Relokasi


Gambar 21. Salah Satu Hiburan dalam Proses Acara

3.1.5 Aspek Dokumen Bencana
Dokumen penangulangan bencana atau disebut dokumen Standard Operating Procedure (SOP) tanggap darurat bencana seharusnya tidak hanya dimiliki hingga tingkat desa saja, namun sebaiknya setiap dusun juga memliki. Dokumen SOP tanggap darurat bencana tingkat dusun selanjutnya dapat disinkronisasi dengan dokumen tingkat desa. Hal demikian akan memudahkan pihak desa dalam melakukan tindakan apabila terjadi bencana.


Gambar 22.  Dokumen SOP Tanggap Darurat Bencana Dusun Srodokan Gungan


Satu-satunya dusun yang sudah memiliki dokumen SOP tanggap darurat bencana adalah Dusun Srodokan Gungan. Dokumen tersebut berisi gambaran umum wilayah dusun, data kependudukan, penilaian ancaman/risiko bencana, dan skenario tindakan penyelamatan, seperti ditunjukkan pada Gambar 22, dokumen tersebut disyahkan oleh Kepala Dusun Srodokan Gungan.

3.1.6 Aspek Ketangguhan Desa
Penilaian ketangguhan Desa Wukirsari dalam menghadapi kemungkinan bencana erupsi menggunakan tata cara penilaian Desa Tangguh Bencana yang terdapat pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) No.1 Tahun 2012. Penilaian menggunakan kuisioner yang meliputi 20 aspek dan 60 indikator menggunakan metode skoring. Penilaian dengan skor 1 untuk jawaban “Ya” dan skor 0 untuk jawaban “Tidak”. Hasil skoring menunjukkan kriteria ketangguhan desa, dengan pengelompokan sebagai berikut:
-    Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Utama (skor 51-60)
-    Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Madya (skor 36-50)
-    Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Pratama (skor 20-35)
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari cara wawancara dengan responden Bapak Totok Hartanto selaku Kepala Dusun Srodokan Gungan Desa Wukirsari. Dari penilaian yang sudah dilakukan, diperoleh ketangguhan Desa Wukirsari memiliki skor 36, dan termasuk dalam kriteria Desa Tangguh Bencana Madya.
Dalam Perka BNPB No.1 Tahun 2012 dijelaskan kriteria Desa Tangguh Bencana Madya dicirikan dengan:
a.   Adanya kebijakan PRB yang tengah dikembangkan di tingkat desa atau kelurahan
b.   Adanya dokumen perencanaan PB yang telah tersusun tetapi belum terpadu ke dalam instrumen perencanaan desa
c.   Adanya forum PRB yang beranggotakan wakil-wakil dari masyarakat, termasuk kelompok perempuan dan kelompok rentan, tetapi belum berfungsi penuh dan aktif
d.   Adanya tim relawan PB Desa/Kelurahan yang terlibat dalam kegiatan peningkatan kapasitas, pengetahuan dan pendidikan kebencanaan bagi para anggotanya dan masyarakat pada umumnya, tetapi belum rutin dan tidak terlalu aktif
e.   Adanya upaya-upaya untuk mengadakan pengkajian risiko, manajemen risiko dan pengurangan kerentanan, termasuk kegiatankegiatan ekonomi produktif alternatif untuk mengurangi kerentanan, tetapi belum terlalu teruji
f.    Adanya upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan serta tanggap bencana yang belum teruji dan sistematis.

Dari hasil kusioner di atas dapat diketahui bahwa Desa Wukirsari sudah termasuk dalam kategori Desa Tangguh Bencana Madya. Namun setelah dilakukan pengamatan di lapangan (di dusun Srodokan Gungan dan dusun Cakran) tentang kesiapsiagaan pada aspek sebelumnya, terlihat bahwa pembangunan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana belum merata ke semua dusun di desa Wukirsari. Dusun Srodokan Gungan memiliki manajemen kebencanaan yang lebih baik dari pada  Dusun Cakran. Oleh karena itu pada akhir penelitian ini, diberikan beberapa usulan, baik untuk pihak desa maupun pihak dusun untuk bersama-sama mewujudkan pemerataan pembangunan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari.

3.2 Usulan-usulan Budaya Sadar Bencana 
Demi mewujudkan Desa Wukirsari sebagai desa tangguh bencana maka diperlukan pemerataan manajemen kebencanaan disetiap dusun yang ada di Desa Wukirsari. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diberikan usulan-usulan yang disarankan untuk seluruh dusun di Desa Wukirsari agar terwujud budaya sadar bencana tingkat desa. Usulan-usulan berdasarkan permasalahan yang ada di lapangan adalah sebagai berikut:
1.   Setiap dusun di Desa Wukirsari diharapkan memiliki media informasi tentang informasi kebencanaan seperti yang sudah dimiliki oleh Huntap Dongkelsari yaitu Rumah Baca yang dijadikan refrensi kebencanaan bagi masyarakat setempat Sehingga anak-anak yang ada di kawasan Huntap sudah dikenali seputar kebencanaan sejak dini.
2.   Setiap dusun di Desa Wukirsari diharapkan memiliki suatu media yang dapat mengingatkan mayarakatnya untuk selalu mengingat kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi sebelumnya dan telah menelan banyak korban jiwa dengan demikian secara tidak langsung masyrakat akan bersikap selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Salah satu contoh yang sudah diterapkan adalah ‘Museum Dokumenter Kebencanaan’ yang memuat informasi seputar bencana serta barang-barang yang tersisa saat pasca erupsi merapi yang terjadi tahun 2010 lalu.
3.   Setiap dusun diharapkan melakukan upaya untuk mengumpulkan dana khusus yang nantinya akan digunakan untuk keperluan pra ataupun pasca bencana.
4.   Setiap dusun diharapkan memiliki dokumen penanggulangan bencana tingkat dusun, yang kemudian disinkroniksasikan dengan dokumen penanggulangan bencana desa. Adapun isi pada dokumen penangulangan bencana tingkat dusun adalah data penduduk, pihak-pihak yang memiliki kewenangan/ tanggung jawab dalam proses tindakan penyelamatan, dan skenario penyelamatan yang sesuaikan dengan desa.
5.   Setiap dusun hendaknya memiliki tim siaga bencana dan dikoordinasikan dengan desa.
6.   Setiap dusun hendaknya memiliki peta jalur evakuasi dan disesuaikan dengan desa.
7.   Setiap desa hendaknya memiliki peta usia rentan yang diperbaharui minimal sekali setahun. Tujuan dibuatnya peta ini agar pada saat terjadi bencana masyarakat yang masuk dalam kategori usia rentan dapat diprioritaskan dalam proses evakuasi.
8.   Pihak desa maupun dusun hendaknya aktif bekerja sama dengan pihak pemerintah maupun swasta dalam memberikan pengetahuan, pelatihan, simulasi, penyuluhan dan lain sebagainya  demi membiasakan kehidupan masyarakat yang berwawasan kebencanaan.

4.   KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian terhadap kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari, dapat diberikan beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:

4.1 Kesimpulan
1.   Kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari belum merata dimiliki oleh semua dusun. Dusun yang di dalamnya terdapat Huntap paska erupsi Merapi 2010 memiliki kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang lebih baik dibandingkan dengan dusun yang di dalamnya tidak terdapat huntap.
2.   Ketangguhan Desa Wukirsari tergolong pada Desa Tangguh Bencana Madya berdasarkan Perka  BNPB No.1 Tahun 2012, namun belum merata hingga tingkat dusun.
3.   Perlu dilakukan pemerataan tingkat kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di desa Wukirsari hingga ke semua dusun yang ada, dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat setempat.

4.2 Saran
1.   Pada penelitian berikutnya sebaiknya dilakukan survei lokasi di semua dusun yang ada di Desa Wukirsari sehingga akan diperoleh data yang lebih akurat.
2.   Pada penelitian berikutnya lebih meninjau beberapa organisasi/kelompok disekitar Desa Wukirsari yang bergerak pada bidang kebencanaan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh peran organisasi tersebut dalam melakukan tindakan penyelamatan saat terjadi bencaa di Desa Wukirsari.


DAFTAR PUSTAKA

BNPB, 2008, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi, Diambil dari https://geospasial.bnpb.go.id. (15 Agustus 2017).
BNPB, 2010, Peta Zonasi Bahaya (Jarak Radius 20 Km) Dari Puncak Gunungapi Merapi, Diambil dari https://geospasial.bnpb.go.id. (15 Agustus 2017).
BNPB, 2012, Perka BNPB No. 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Badan, Diambil dari www.gitews.org. (20 Juli 2017).
Googel Earth, 2017, Pos Aju SAR DIY. Yogyakarta
Pemda DIY, 2012, Awali Pembangunan Huntap Korban Merapi,Sultan Letakkan Batu Pertama,  Diambil dari https://jogjaprov.go.id. (22 Juli 2017)
Repositori UGM, 2014, Penerimaan Warga Terhadap Sarana dan Prasarana yang ada di Huntap Pagerjurang, Diambil dari https://etd.repository.ugm.ac.id  (22 Juli 2017).
Sriharni, 2010, Membangun Masyarakat Sadar Bencana. Jurnal Dakwah, Vol. XI No. 2, Juli-Desember 2010, Diambil dari https://ejournal.uin-suka.ac.id (23 Juli 2017).
Sugiharto, Oktarina. 2015, Evaluasi Pelaksanaan Pendidikan Kesiapsiagaan Pada Masyarakat Rawan Bencana Gunung Bromo Dan Gunung Merapi Tahun 2012, Diambil dari https://media.neliti.com. (23 Juli 2017).
Wukirsari, 2013, Rencana Kontenjensi Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi Desa Wukirsari, Yogyakarta.
Wukirsari. 2017. Batik Sembodo Huntap Dongkelsari. Diambil dari http://wukirsari-sleman.sid.web.id  ( 20 Agustus 2017).
Wukirsari, 2017, Literasi dan Mitigasi Bencana Ala Huntap Dongkelsari, Diambil dari http://wukirsari-sleman.sid.web.id (22 Agustus 2017).