THE EVALUATION OF DISASTER PREPAREDNESS AND AWARENESS PRACTICE
OF COMMUNITY IN WUKIRSARI VILLAGE,
CANGKRINGAN, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Elvis Saputra dan Restu Faizah
Program
Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Jl. Lingkar Selatan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta
E-mail:
elvizsaputra95@gmail.com,
restu.faizah@umy.ac.id
Abstrak
Erupsi
Gunung Merapi pada tahun 2010 mengakibatkan ratusan korban meninggal dunia
maupun luka-luka, serta ribuan rumah rusak ringan hingga berat. Salah satu desa
terdampak erupsi Merapi 2010 adalah Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan,
Kabupaten Sleman DIY, yang secara geografis merupakan wilayah rawan bencana
akibat erupsi Gunung Merapi, mulai aliran lahar panas, banjir lahar dingin dan hujan
abu vulkanik. Di desa tersebut terdapat huntap (hunian tetap) Dongkelsari yang
dihuni oleh warga yang direlokasi karena tempat tinggalnya berada di daerah
yang tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapsiagaan dan
budaya sadar bencana masyarakat Desa Wukirsari, baik yang berada di dalam
huntap maupun masyarakat asli yang berada di luar huntap. Hasil penelitian
menggambarkan bahwa kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari
belum merata, terutama di wilayah luar huntap telihat masih sangat kurang. Oleh
karena itu beberapa program diusulkan di akhir penelitian ini, agar tingkat
kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana masyarakat Desa Wukirsari dapat
meningkat. Dengan demikian diharapkan apabila terjadi erupsi Merapi di masa
yang akan datang, tidak mengakibatkan korban sebagaimana erupsi pada tahun
2010.
Katakunci : kesiapsiagaan,
budaya sadar bencana, erupsi Merapi, Desa Wukirsari, hunian tetap.
Abstract
The
2010 Mount Merapi eruption result in death and injury, as well as many of house
damage in term mild to severe. Wukirsari is an affected village of this
eruption which is located in Cangkringan District, Sleman Regency. It really an
eruption disaster-prone area where is a hot pyroclastic flow, volcanic ash rain,
and cold lava flood likely occur. There is a permanent Relocated Settlement
namely Huntap Dongkelsari in this site, which is used for a resident of
relocated people from the areas uninhabitable. This study aims to evaluate the
disaster preparedness and awareness practice of the community in Wukirsari
village, both of the residents in the Huntap and outside. The result
illustrates the disproportionate of disaster preparedness and awareness
practice of the community in Wukirsari Village, with the condition in the
outside more severe than in the Huntap. Accordingly, programs to improve the
disaster preparedness and awareness practice is proposed. It is expected to
mitigate the risk of Merapi Hazard in the future, so there aren’t victims more
than 2001 eruption's impact.
Keywords:
Preparedness, awareness practice, Merapi eruption, Wukirsari village, permanent relocated settlement.
1.
PENDAHULUAN
Erupsi Gunung Merapi yang terjadi
pada tahun 2010 di Yogyakarta menyebabkan 346 orang meninggal, 121 korban luka
berat dan 5 orang korban hilang. Pemukiman yang terletak disekitar lereng
Gunung Merapi mengalami kerusakan yang cukup parah, tercatat sekitar 2.682
rumah rusak berat dan tidak layak huni, 156 rumah rusak sedang dan 632 rumah
rusak ringan (Repositori UGM, 2014).
Warga yang terkena dampak erupsi
Merapi 2010 kemudian direlokasi ke huntara (hunian sementara) hingga 2012.
Bersamaan dengan itu, Pemerintah membangun huntap (hunian tetap) untuk para
korban yang kehilangan tempat tinggal, dan selesai pada tahun 2013. Pembangunan
huntap tersebut tersebar di 15 lokasi, beberapa diantaranya terletak di Desa
Umbulharjo, Desa Wukirsari, Desa Argomulyo, Desa Kepuharjo, Kecamatan
Cangkringan dan Desa Sindumartani Kecamatan Ngeplak. Lokasi ini diplih sebagai
huntap karena dianggap sebagai lokasi yang aman dari ancaman bahaya erupsi
merapi maupun lahar dingin (Pemda D.I Yogyakarta).
Setelah 7 tahun paska erupsi dan 4
tahun setelah dibangunnya huntap tersebut diharapkan pada daerah huntap dan
sekitarnya sudah memiliki budaya sadar bencana, sehingga masyarakat memiliki
kesiapan apabila Merapi kembali meletus. Oleh karena itu, perlu dilakukan
evaluasi untuk mengetahui kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki
masyarakat, agar perbaikan dan program peningkatan kesiapsiagaan masyarakat
dapat dilakukan sesegera mungkin, sehingga masyarakat memiliki ketangguhan
menghadapi kemungkinan bencana erupsi Merapi pada waktu yang akan datang. Salah
satu desa tempat dibangunnya huntap pasca letusan merapi 2010 tersebut adalah Desa
Wukirsari yang terletak di Kecamatan Cangkringan. Meskipun di desa tersebut
terdapat huntap, namun belum bisa dipastikan apakah beberapa dusun yang berada
di sekitar huntap memiliki kondisi yang sama dengan huntap baik dari
infrastrukrutur, kesiapan dalam menghadapi bancana dan lain sebagainya.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi atau menilai kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki
masyarakat Desa Wukirsari. Dusun yang akan di evaluasi pada penelitian ini
adalah dusun yang di dalamnya terdapat huntap yaitu Dusun Srodokan Gungan dan
dusun yang di dalamnya tidak terdapat huntap yaitu Dusun Cakran. Secara umum
dusun-dusun yang ada di Desa Wukirsari sama.
Evaluasi kesiapsiagaan dan budaya
sadar bencana meliputi penilaian terhadap aspek fisik, ekonomi, budaya dan
ketangguhan desa, diikuti dengan penyusunan program usulan. Tujuan dari program
usulan adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di
beberapa dusun yang ada di Desa Wukirsari sehingga ketangguhan dusun dapat meningkat.
Evaluasi ketangguhan dusun berpedoman pada Perka BNPB No.1 Tahun 2012 tentang
Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, sedangkan metode pengumpulan data menggunakan
data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan
langsung di lapangan, kuosioner dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal
dari data yang dimiliki oleh pemerintahan desa maupun dusun. Pembahasan
dilakukan dengan metode deskriptif, yang berdasarkan pada gambaran langsung
kondisi di lapangan.
Sriharini (2010) menyebutkan bahwa
hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyikapi kejadian bencana yang
sering terjadi di Indonesia adalah menyiapkan dan membangun masyarakat sadar
bencana. Dalam upaya membangun masyarakat atau komunitas sadar bencana,
pendidikan kebencanaan menjadi pintu masuk yang cukup penting dan strategis.
Pendidikan kebencanaan dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, non formal
maupun informal. Sementara itu Sugiharto (2015) menjelaskan bahwa pendidikan
kesiapsiagaan melalui penyuluhan memiliki dasar regulasi tingkat pusat dan
daerah yang menjadi acuan kerja petugas BPBD. Instansi yang terlibat penyuluhan
adalah dinas kesehatan dan puekesmas, PMI, LSM, BPBD. Dampak penyuluhan
kesiapsiagaan adalah ketika terjadi erupsi gunung merapi masyarakat sudah mau
mengungsi, termasuk sebagian dari masyarakat Bromo, agar selamat, selain itu
masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS).
2.
METODOLOGI
2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian
dilakukan di Dusun Srodokan Gungan dan Dusun Cakran, Desa Wukirsari, Kecamatan
Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi penelitian
memiliki radius ± 12 Km dari puncak
Merapi, seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.
2.2 Waktu
Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juli
hingga bulan September 2017.
2.3 Analisis
Analisis penelitian ini meliputi
beberapa tahapan, yaitu:
1. Survei
lokasi ke Desa Wukirsari
Gambar 1. Lokasi Dusun Srodokan Gungan dan Cakran
2. Melakukan
pendekatan dengan warga dan pihak-pihak desa yang memiliki kewenangan dalam
mitigasi bencana.
3. Melakukan
pengisian kuisioner Perka BNPB No.1 Tahun 2012 dengan cara mewawancarai salah
satu pihak desa yang memiliki kewenangan tentang mitigasi bencana di desa
tersebut.
4. Melakukan
survei fasilitas-fasilitas yang ada di Desa Wukirsari yang dapat menunjang
proses mitigasi dan mewujudkan desa tangguh bencana.
5. Skoring
hasil kuisioner Perka BNPB No.1 Tahun 2012, untuk mengetahui ketangguhan Desa
Wukirsari.
6. Penyusunan
usulan program peningkatan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana yang dimiliki
masyarakat Dusun Srodokan Gungan dan Dusun Cakran, Desa Wukirsari.
2.4 Metode
Penilaian
Kesiapsiagaan
dan Budaya
Sadar
Bencana
Kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana
yang ditinjau dalam penelitian ini meliputi
beberapa aspek sebagai berikut:
1. Aspek
fisik, ditunjukkan dengan kesiapan infrastruktur dan peralatan yang tersedia
dan siap dimanfaatkan ketika terjadi bencana. Beberapa infrastruktur dan peralatan
yang ditinjau dalam penelitian ini meliputi jalur evakuasi, titik kumpul,
museum kebencanaan, peta jalur evakuasi, peta usia rentan, struktur bangunan
rumah warga, pos ronda dll.
2. Aspek
SDM (Sumber Daya Manusia) yang meliputi kesadaran masyarakat tentang bahaya
erupsi merapi, ketrampilan yang dimiliki masyarakat untuk melakukan tindakan
penyelamatan, tim siaga bencana, tim relawan, kerjasama pihak dusun dengan
pihak pemerintah maupun pihak swasta.
3. Aspek
ekonomi, meliputi kesiapan masyarakat dari sisi ekonomi untuk menghadari
kemungkinan erupsi Merapi yang kembali terjadi. Kesiapan dari aspek ekonomi
yang ditinjau meliputi tingkat ekonomi warga, ketersediaan kas desa untuk
kegiatan mendesak, cadangan makanan,
kerajinan masyarakat, dan UKM.
4. Aspek
budaya, yang merupakan kebiasaan masyarakat yang sudah dilakukan turun temurun
atau beberapa tahun terakhir dan bernilai positif dalam kegiatan penanggulangan
bencana.
5. Aspek
ketersediaan dokumen penanggulangan bencana.
6. Aspek
ketangguhan desa, diukur menggunakan metode skoring dengan penilaian mengikuti
Perka BNPB No.1 Tahun 2012
2.5 Usulan
Program
Program yang menjadi usulan dalam
penelitan ini merupakan pengembangan dari kekurangan yang ditemukan saat
penilaian kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di beberapa dusun Desa
Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dusun
Srodokan Gungan dan Dusun Cakran secara administrasi berada di Desa Wukirsari
yang terletak di wilayah Kecamatan cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta, dengan luas wilayah keseluruhan 1.456 Ha. Jarak tempuh dari Kota
Jogja sekitar 20 km dengan waktu tempuh sekitar satu jam, kedua dusun ini
terletak di lereng merapi. Desa Wukirsari
secara geografis merupakan wilayah rawan bencana akibat erupsi Gunung
Merapi, mulai dari banjir lahar panas, lahar dingin, hujan abu vulkanik dan
awan panas. Terjadinya peristiwa bencana menimbulkan keadaan darurat yang
ditandai dengan terancamnya keselamatan dan kesejahteraan jiwa, kerugian harta
benda, dan rusaknya prasarana dan sarana publik.
Pada Dusun Srodokan Gungan terdapat
huntap yang dihuni oleh masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi
tahun 2010. Upaya yang sudah dilakukan oleh masyarakat huntap dalam mewujudkan
budaya sadar bencana meliputi pembangunan Museum Dokumenter Kebencanaan dan
kirab budaya tahunan. Prosesi kirab budaya menggambarkan proses relokasi dari
dusun lama atau tempat yang dulunya terkena dampak langsung erupsi merapi 2010
ke tempat baru yang lebih aman yaitu Huntap Dongkelsari. Sedangkan letak atau
posisi Dusun Cakran yakni berada disebelah timur Huntap Dongkelasari yang di
dalamnya tidak terdapat huntap. Dusun ini secara umum sama seperti dusun
lainnya hanya saja pada Dusun cakran belum terlihat adanya upaya-upaya yang dilakukan
dalam pengurangan resiko bencana selain dari itu juga belum terlihat adanya
upaya untuk mewujudkan budaya sadar bencana seperti yang telah diterapkan di
Huntap Dongkelsari.
Responden utama dalam penelitian ini
adalah Totok Hartanto, yang memiliki kedudukan sebagai Kepala Dukuh pada salah
satu pendukuhan di Desa Wukirsari, tepatnya di Dusun Srodokan Gungan yang sudah
mulai menerapkan budaya sadar bencana di kawasan tersebut. Salah satu cara
Totok Hartanto dalam Menciptakan budaya sadar bencana di kawasan huntap adalah
dengan menggerakkan mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
untuk membuat suatu program-program yang dapat mewujudkan budaya sadar bencana.
Berbagai program yang telah berhasil diwujudkan oleh Totok Hartanto dengan mahasiswa
di salah satu universitas di Yogyakarta diantaranya, Museum Dokumenter
Kebencanaan, Rumah Baca, Peta Jalur Evakuasi tingkat dusun, Peta Usia Rentan
tingkat dusun, Papan Informasi jalur evakuasi dan titik kumpul, serta dokumen Standard Operating Procedure (SOP)
Tanggap Darurat Bencana tingkat dusun.
.
3.1 Penilaian tingkat kesiapsiagaan dan budaya
sadar bencana
3.1.1 Aspek Fisik
1)
Dusun Srodokan
Gungan
Dusun Srodokan
Gungan yang di dalamnya terdapat Huntap dari aspek fisik sudah terlihat cukup
baik. Pada bidang infrastruktur, di Dusun Srodokan Gungan banyak ditemukan
rumah-rumah yang didesain sesuai dengan pedoman rumah tahan gempa dan jaringan
jalan yang ada di huntap dan sekitarnya sudah terlihat baik, seperti ditunjukkan
dalam Gambar 2 dan Gambar 3.
Penilaian pada
segi peralatan atau fasilitas penunjang mitigasi bencana Dusun Srodokan Gungan
sudah terlihat cukup bagus terutama di Huntap Dongkelsari, ditandai dengan
ketersediaan fasilitas-fasilitas seperti Museum Dokumenter Kebencanaan, rumah
baca, rumah batik, pendopo, taman bermain anak, masjid, papan informasi jalur
evakuasi, papan informasi titik kumpul, peta desa, peta jalur evakuasi dan peta
usia rentan. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk menunjang
mitigasi bencana yang ada di Dusun Srodokan Gungan, dan ditunjukkan dengan
Gambar 4 - 9.
Pada Gambar 4,
terlihat Museum Dokumenter Kebencanaan yang dibangun pada tahun 2016 dan
berlokasi di Desa Wukirsari dengan
bentuk bangunan yang sangat sederhana.
Gambar 2. Rumah Warga Huntap Dongkelsari Dusun Srodokan
Gungan
Gambar 3. Jaringan Jalan Sudah Terlihat Baik (Aspal)
Gambar 4. Museum
Dokumenter Kebencanaan
Gambar 5. Pata Jalur Evakuasi dan Usia Rendan di Dalam
Museum
Bangunan museum
ini dipinjam dari warga huntap yang belum ditempati. Dinding pada bangunan
museum masih terlihat susunan batakonya dan lantai masih berupa tanah. Hal ini
memang disengaja karena bangunan tersebut menjadi bagian dari kisah pasca
erupsi Merapi. Dalam bangunan museum tersebut terdapat benda-benda pasca erupsi
merapai 2010 milik warga setempat diataranya seperti sepeda motor masyarakat
yang rusak akibat awan panas, piring-piring dan gelas yang sudah lama tertimbun
oleh abu vulkanik, tulang-tulang hewan yang tersisa akibat awan panas dan berbagai foto yang ditempel di dinding yang
menceritakan sitausi pada saat terjadi erupsi merapi.
Selain dari
barang-barang sisa erupsi di dalam bangunan tersebut juga terdapat peta kawasan
rawan bencana gunung merapi, peta jalur evakuasi dusun dan peta usia rentan
dusun yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam melakukan proses
evakuasi. Salah satu sudut dalam museum dokumenter kebencanaan terlihat pada
Gambar 5, dimana tertempel peta jalur evakuasi dan usia rentan.
Selain Museum Dokumenter Kebencanaan di
Huntap Dongkelsari juga terdapat Rumah Baca (Gambar 6) yang dapat dijadikan
sebagai pusat referensi bagi masyarakat setempat tentang informasi seputar
kebencanaan, terutama bagi usia anak-anak. Dengan adanya rumah baca ini,
diharapkan anak-anak terbiasa mengenali apa itu bencana dan apa yang seharusnya
dilakukan jika terjadi bencana, sehinggan akan mewujudkan lingkungan masyarakat
yang berwawasan kebencanaan. Salah satu sudut rumah baca ditunjukkan pada
Gambar 7.
Kesiapan Huntap
Dongkelsari dalam menjalani proses evakuasi juga sudah terlihat memiliki sistem
yang baik. Hal itu tampak pada saat dilakukan survei ke lokasi, dimana pada
setiap simpang atau blok terdapat papan informasi (Gambar 8) yang menunjukkan
arah jalur evakuasi yang disesuaikan dengan arah yang ada pada peta. Selain
itu, terdapat pula peta evakuasi dan usia rentan (Gambar 9) untuk mengetahui
sebaran golongan rentan di Huntap Dongkelsari, sehingga apabila terjadi
bencana, masyarakat yang masuk dalam kategori usia rentan dapat diprioritaskan
dalam proses evakuasi.
Selain dari
fasilitas-fasilitas yang sudah dijelaskan di atas, Huntap Dongkelsari juga
memiliki beberapa fasilitas umum diantaranya Pos Ronda, Pendopo, Masjid, Taman
bermain dan lain sebagainya, ditunjukkan pada Gambar 10 sampai Gambar 12.
Gambar
6. Rumah Baca Huntap Dongkelsari
Gambar 7. Terlihat Buku-Buku di dalam Rumah Baca Memuat
Informasi Seputar Kebencanaan.
Gambar 8. Papan Informasi Jalur Evakuasi
Gambar 9. Peta Jalur Evakuasi dan Usia Rentan
Gambar 10. Pendopo Sebagai Tempat Perkumpulan Warga
Gambar 11. Pos
Ronda
Gambar 12. Masjid di Huntap Dongkelsari
2)
Dusun Cakran
Lokasi Dusun
Cakran berada pada posisi yang lebih dekat dengan ancaman letusan Merapi,
dibandingkan dengan lokasi Dusun Srodokan Gungan. Namun apabila dilihat dari
segi kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman Merapi, dusun ini terlihat belum
memiliki upaya yang maksimal dalam pengurangan resiko bencana. Berdasarkan survei
di lapangan, dapat diketahui bahwa situasi Dusun Cakran cukup berbeda dengan
situasi Dusun Srodokan Gungan, baik dari segi infrasruktur, jaringan, maupun
manjemen kebencanaannya.
Pada dusun ini
tidak terdapat huntap dan konstruksi rumah masyarakat secara umum belum
mengikuti persyaratan rumah yang aman, sehingga dinilai memiliki potensi untuk
rusak berat apabila terjadi bencana. Pada dusun ini juga terdapat sungai yang
cukup besar dan berjarak sangat dekat
(Gambar 13) yang mana apabila terjadi erupsi Merapi, maka daerah sekitar
dusun ini berpotensi terkena ancaman berupa banjir lahar panas maupun banjir
lahar dingin. Pada Gambar 14 terlihat jenis bangunan rumah warga Dusun Candran
yang masih sangat sederhana dan belum memenuhi persyaratan rumah yang aman.
Gambar 13. kondisi Sungai di Dusun Cakran
Gambar 14. Kondisi
Beberapa Rumah Warga
Kondisi alam di
Dusun Cakran juga menambah tingginya potensi bencana, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 15, dimana masih terdapat jalan-jalan yang sempit dan curam. Kondisi ini
sangat tidak menguntungkan untuk proses emergency dan evakuasi apabila terjadi
bencana.
Gambar 15. Situasi Medan Jalan Yang Cukup Sempit dan Curam
Dari aspek kesiapsiagaan, Dusun Cakran
juga belum meiliki kesiapsiagaan yang baik, salah satu bukti yang tampak adalah
tidak adanya papan informasi tentang jalur evakuasi, dan titik kumpul seperti
ditunjukkan pada Gambar 16.
Gambar 16. Tidak Adanya Papan Informasi Arah Evakuasi dan
Titik Kumpul
3.1.2 Aspek SDM
Dari segi aspek
SDM dalam penanggulangan bencana secara umum Desa Wukirsari masih bergantung
pada tim SAR dan BPBD setempat, meskipun demikian namun sebagian anggota dari
SAR bersal dari muda-mudi desa sekitar, salah satunya adalah Desa Wukirsari.
Meskipun
masyarakat Desa Wukirsari sebelumnya sudah mulai berupaya untuk membentuk
komunitas penanggulangan bencana namun karena keterbatasan personil dan
perlatan yang belum begitu memadai komunitas ini belum berjalan dengan baik.
SAR DIY dan TRC
BPBD bersama-sama bersinergi aktif dalam melakukan tindakan-tindakan
penyelamatan pada saat terjadi bencana. Tim SAR dan TRC BPBD ini difokuskan
untuk menangani bagian sisi selatan Gunung Merapi. Pos SAR berada di Desa
Umbulharjo dan berada disebelah sisi selatan Desa Wukirsari yang memliki radius
± 5-10 km dari
puncak gunung merapi. Untuk melihat lokasi dan pos SAR lihat Gambar 17 dan 18.
3.1.3 Aspek Ekonomi
Pengamatan pada
aspek ekonomi, diketahui bahwa masyarakat Dusun Srodokan Gungan sudah melakukan
berbagai upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terdampak erupsi
merapi 2010.
Upaya ini dapat
dinilai sebagai sebuah kemampuan atau modal yang dimiliki masyarakat agar bisa
bangkit dengan cepat dan segera dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
apabila terjadi bencana dimasa yang akan datang. Berbagai upaya yang telah
dilakukan oleh kelompok masyarakat Dusun Srodokan Gungan diantaranya adalah
berupa kerajinan batik yang dikerjakan oleh kelompok masyarakat dan kemudian
dipasarkan atau dijual dengan cara ikut serta dalam event atau acara
bazar-bazar yang diselenggarakan di beberapa tempat. Salah satu contoh terlihat
pada Gambar 19, pemasaran batik yang dilakukan oleh masyarakat melalui web desa
pada link: www.wukirsari-sleman.sid.web.id. Selain batik, terdapat usaha lain
yang sudah dimiliki oleh masyarakat Dusun Dongkelsari, yaitu produk Yoghurt
Susu Kambing Etawa Merapi dan snack-snack seperti yang terlihat pada Gambar 20.
Gambar 17. Jarak Pos SAR dari Puncak Merapi
Gambar 18. Pos Aju SAR DIY
Sementara itu,
berdasarkan hasil wawancara dengan kepala dusun, bapak Yudi Anthoni, diperoleh
penjelasan bahwa selama masa jabatannya di Dusun Cakran, mata pencaharian
masyarakat didominasi oleh petani dan sebagian kecil ada yang bekerja angkut
pasir. Hingga saat ini belum ditemukan warga yang memiliki usaha atau membuat
kerjajinan/keterampilan sebagai bekal untuk bertahan hidup apabila terjadi
bencana/keadaan darurat. Jika penduduk suatu wilayah hanya bekerja sebagai
petani, sedangkan pemukimannya berada dekat dengan gunung berapi yang masih
aktif, maka tanaman terancam rusak dan mata pencaharian masyarakat akan
terhenti, apabila gunung berapi tersebut erupsi. Oleh sebab itu keterampilan
masyarakat dalam membuat suatu kerjainan atau suatu peluang usaha sangat
dibutuhkan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pemerintah setempat terutama pihak
desak hendaknya selalu memberikan arahan dan bimbingan dalam mewujudkan
ketangguhan masyarakat pada aspek ekonomi ini.
Gambar 19. Hasil Kerajinan Batik Masyarakat Dusun
Srodokan Gungan
Gambar 20. Yoghurt dan Snack-Snack yang Dijual Masyarakat
3.1.4 Aspek Budaya
Pengamatan pada
aspek budaya menunjukkan bahwa Dusun Srodokan Gungan telah memiliki upaya
penguruangan resiko bencana, sementara Dusun Cakran belum memiliki. Berdasarkan
penjelasan dari bapak Yudi Anthoni, belum pernah dilakukan upaya untuk
mengingat atau memberikan informasi seputar kebencanaan melalui acara
kebudayaan di Dusun Cakran.
Kegiatan peringatan 6 tahun bencana merapi dengan tema "Kebangkitan
dusun Srodokan Gungan paska 6 tahun bencana Merapi", diselenggarakan pada
tanggal 12 s/d 13 November 2016 di Dusun Srodokan Gungan. alam kegiatan
tersebut, warga mengadakan berbagai macam acara, antara lain kirab budaya yang
menggambarkan proses “bedol desa” atau relokasi dari dusun lama yang terdampak
langsung bencana Merapi 2010 menuju Huntap Dongkelsari. Peringatan 6 tahun
bencana Merapi tersebut bertujuan untuk mengingat kembali kejadian bencana 6
tahun silam agar risiko bencana dimasa yang akan datang dapat di mimimalisir.
Kepala Dusun Srodokan Gungan, Totok Hartanto, berharap acara semacam ini bisa
rutin dilakukan setiap tahun dengan biaya berasal dari swadaya masyarakat.
Beberapa rangkaian acara tersebut dapat dlihat pada Gambar 20 dan Gambar 21.
Gambar 20. Proses Relokasi
Gambar 21. Salah Satu Hiburan dalam Proses Acara
3.1.5 Aspek Dokumen Bencana
Dokumen
penangulangan bencana atau disebut dokumen Standard Operating Procedure (SOP)
tanggap darurat bencana seharusnya tidak hanya dimiliki hingga tingkat desa
saja, namun sebaiknya setiap dusun juga memliki. Dokumen SOP tanggap darurat
bencana tingkat dusun selanjutnya dapat disinkronisasi dengan dokumen tingkat
desa. Hal demikian akan memudahkan pihak desa dalam melakukan tindakan apabila
terjadi bencana.
Gambar 22. Dokumen
SOP Tanggap Darurat Bencana Dusun Srodokan Gungan
Satu-satunya dusun
yang sudah memiliki dokumen SOP tanggap darurat bencana adalah Dusun Srodokan
Gungan. Dokumen tersebut berisi gambaran umum wilayah dusun, data kependudukan,
penilaian ancaman/risiko bencana, dan skenario tindakan penyelamatan, seperti ditunjukkan
pada Gambar 22, dokumen tersebut disyahkan oleh Kepala Dusun Srodokan Gungan.
3.1.6 Aspek Ketangguhan Desa
Penilaian
ketangguhan Desa Wukirsari dalam menghadapi kemungkinan bencana erupsi
menggunakan tata cara penilaian Desa Tangguh Bencana yang terdapat pada
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) No.1 Tahun
2012. Penilaian menggunakan kuisioner yang meliputi 20 aspek dan 60 indikator
menggunakan metode skoring. Penilaian dengan skor 1 untuk jawaban “Ya” dan skor
0 untuk jawaban “Tidak”. Hasil skoring menunjukkan kriteria ketangguhan desa,
dengan pengelompokan sebagai berikut:
- Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Utama (skor 51-60)
- Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Madya (skor 36-50)
- Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Pratama (skor 20-35)
Dalam penelitian ini, data diperoleh dari cara wawancara dengan responden
Bapak Totok Hartanto selaku Kepala Dusun Srodokan Gungan Desa Wukirsari. Dari
penilaian yang sudah dilakukan, diperoleh ketangguhan Desa Wukirsari memiliki
skor 36, dan termasuk dalam kriteria Desa Tangguh Bencana Madya.
Dalam Perka BNPB No.1 Tahun 2012 dijelaskan kriteria Desa
Tangguh Bencana Madya dicirikan dengan:
a. Adanya kebijakan PRB yang tengah dikembangkan di tingkat desa atau
kelurahan
b.
Adanya dokumen perencanaan PB yang telah
tersusun tetapi belum terpadu ke dalam
instrumen perencanaan desa
c.
Adanya forum PRB yang beranggotakan wakil-wakil
dari masyarakat, termasuk kelompok
perempuan dan kelompok rentan, tetapi belum berfungsi
penuh dan aktif
d.
Adanya tim relawan PB Desa/Kelurahan yang
terlibat dalam kegiatan peningkatan kapasitas,
pengetahuan dan pendidikan kebencanaan bagi para
anggotanya dan masyarakat pada umumnya, tetapi belum rutin dan
tidak terlalu aktif
e.
Adanya upaya-upaya untuk mengadakan pengkajian
risiko, manajemen risiko dan pengurangan kerentanan,
termasuk kegiatankegiatan ekonomi produktif
alternatif untuk mengurangi kerentanan, tetapi belum
terlalu teruji
f.
Adanya upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas
kesiapsiagaan serta tanggap bencana yang belum teruji dan sistematis.
Dari hasil kusioner di atas dapat
diketahui bahwa Desa Wukirsari sudah termasuk dalam kategori Desa Tangguh
Bencana Madya. Namun setelah dilakukan pengamatan di lapangan (di dusun
Srodokan Gungan dan dusun Cakran) tentang kesiapsiagaan pada aspek sebelumnya,
terlihat bahwa pembangunan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana belum merata
ke semua dusun di desa Wukirsari. Dusun Srodokan Gungan memiliki manajemen
kebencanaan yang lebih baik dari pada
Dusun Cakran. Oleh karena itu pada akhir penelitian ini, diberikan
beberapa usulan, baik untuk pihak desa maupun pihak dusun untuk bersama-sama
mewujudkan pemerataan pembangunan kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di
Desa Wukirsari.
3.2 Usulan-usulan
Budaya Sadar Bencana
Demi mewujudkan Desa Wukirsari sebagai
desa tangguh bencana maka diperlukan pemerataan manajemen kebencanaan disetiap
dusun yang ada di Desa Wukirsari. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,
diberikan usulan-usulan yang disarankan untuk seluruh dusun di Desa Wukirsari
agar terwujud budaya sadar bencana tingkat desa. Usulan-usulan berdasarkan
permasalahan yang ada di lapangan adalah sebagai berikut:
1. Setiap dusun di Desa Wukirsari diharapkan memiliki media informasi tentang
informasi kebencanaan seperti yang sudah dimiliki oleh Huntap Dongkelsari yaitu
Rumah Baca yang dijadikan refrensi kebencanaan bagi masyarakat setempat
Sehingga anak-anak yang ada di kawasan Huntap sudah dikenali seputar
kebencanaan sejak dini.
2. Setiap dusun di Desa Wukirsari diharapkan memiliki suatu media yang dapat
mengingatkan mayarakatnya untuk selalu mengingat kejadian-kejadian bencana yang
sudah terjadi sebelumnya dan telah menelan banyak korban jiwa dengan demikian
secara tidak langsung masyrakat akan bersikap selalu waspada terhadap
kemungkinan terjadinya bencana. Salah satu contoh yang sudah diterapkan adalah
‘Museum Dokumenter Kebencanaan’ yang memuat informasi seputar bencana serta
barang-barang yang tersisa saat pasca erupsi merapi yang terjadi tahun 2010
lalu.
3. Setiap dusun diharapkan melakukan upaya untuk mengumpulkan dana khusus yang
nantinya akan digunakan untuk keperluan pra ataupun pasca bencana.
4. Setiap dusun diharapkan memiliki dokumen penanggulangan bencana tingkat
dusun, yang kemudian disinkroniksasikan dengan dokumen penanggulangan bencana
desa. Adapun isi pada dokumen penangulangan bencana tingkat dusun adalah data
penduduk, pihak-pihak yang memiliki kewenangan/ tanggung
jawab dalam proses tindakan penyelamatan, dan skenario penyelamatan yang
sesuaikan dengan desa.
5. Setiap dusun hendaknya memiliki tim siaga bencana dan dikoordinasikan
dengan desa.
6. Setiap dusun hendaknya memiliki peta jalur evakuasi dan disesuaikan dengan
desa.
7. Setiap desa hendaknya memiliki peta usia rentan yang diperbaharui minimal
sekali setahun. Tujuan dibuatnya peta ini agar pada saat terjadi bencana
masyarakat yang masuk dalam kategori usia rentan dapat diprioritaskan dalam
proses evakuasi.
8. Pihak desa maupun dusun hendaknya aktif bekerja sama dengan pihak
pemerintah maupun swasta dalam memberikan pengetahuan, pelatihan, simulasi,
penyuluhan dan lain sebagainya demi
membiasakan kehidupan masyarakat yang berwawasan kebencanaan.
4.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
penelitian terhadap kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa Wukirsari,
dapat diberikan beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:
4.1 Kesimpulan
1.
Kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di Desa
Wukirsari belum merata dimiliki oleh semua dusun. Dusun yang di dalamnya
terdapat Huntap paska erupsi Merapi 2010 memiliki kesiapsiagaan dan budaya
sadar bencana yang lebih baik dibandingkan dengan dusun yang di dalamnya tidak
terdapat huntap.
2.
Ketangguhan Desa Wukirsari tergolong pada Desa
Tangguh Bencana Madya berdasarkan Perka BNPB No.1 Tahun 2012, namun
belum merata hingga tingkat dusun.
3.
Perlu dilakukan pemerataan tingkat
kesiapsiagaan dan budaya sadar bencana di desa Wukirsari hingga ke semua dusun
yang ada, dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat setempat.
4.2 Saran
1.
Pada penelitian berikutnya
sebaiknya dilakukan survei lokasi di semua dusun yang ada di
Desa Wukirsari sehingga akan diperoleh data yang lebih akurat.
2.
Pada penelitian berikutnya
lebih meninjau beberapa organisasi/kelompok disekitar Desa Wukirsari yang
bergerak pada bidang kebencanaan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh peran
organisasi tersebut dalam melakukan tindakan penyelamatan saat terjadi bencaa
di Desa Wukirsari.
DAFTAR
PUSTAKA
BNPB, 2008, Peta
Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi, Diambil dari
https://geospasial.bnpb.go.id. (15 Agustus 2017).
BNPB, 2010, Peta
Zonasi Bahaya (Jarak Radius 20 Km) Dari Puncak Gunungapi Merapi, Diambil dari
https://geospasial.bnpb.go.id. (15 Agustus 2017).
BNPB, 2012, Perka
BNPB No. 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Badan,
Diambil dari www.gitews.org. (20 Juli 2017).
Googel Earth, 2017, Pos Aju SAR DIY. Yogyakarta
Pemda DIY, 2012,
Awali Pembangunan Huntap Korban Merapi,Sultan Letakkan Batu Pertama, Diambil dari https://jogjaprov.go.id. (22
Juli 2017)
Repositori UGM,
2014, Penerimaan Warga Terhadap Sarana dan Prasarana yang ada di Huntap
Pagerjurang, Diambil dari https://etd.repository.ugm.ac.id (22 Juli 2017).
Sriharni, 2010,
Membangun Masyarakat Sadar Bencana. Jurnal Dakwah, Vol. XI No. 2, Juli-Desember
2010, Diambil dari https://ejournal.uin-suka.ac.id (23 Juli 2017).
Sugiharto,
Oktarina. 2015, Evaluasi Pelaksanaan Pendidikan Kesiapsiagaan Pada Masyarakat
Rawan Bencana Gunung Bromo Dan Gunung Merapi Tahun 2012, Diambil dari
https://media.neliti.com. (23 Juli 2017).
Wukirsari, 2013,
Rencana Kontenjensi Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi Desa Wukirsari,
Yogyakarta.
Wukirsari. 2017.
Batik Sembodo Huntap Dongkelsari. Diambil dari
http://wukirsari-sleman.sid.web.id ( 20
Agustus 2017).
Wukirsari, 2017,
Literasi dan Mitigasi Bencana Ala Huntap Dongkelsari, Diambil dari http://wukirsari-sleman.sid.web.id
(22 Agustus 2017).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar